Ketika bekerja dengan sampel yang dapat menghasilkan aerosol, kontaminasi silang, atau paparan bahan berbahaya. Tentunya terdapat risiko besar bagi operator, sampel, maupun lingkungan. Karena itu, penggunaan Biosafety Cabinet (BSC) sangat penting untuk memastikan pekerjaan dapat dilakukan dengan aman dan terkendali.
Meski begitu, penting untuk dipahami bahwa kinerja BSC sangat ditentukan oleh cara pengguna mengoperasikannya. Kesalahan kecil dapat langsung mengurangi efektivitas perlindungan. Konsekuensinya bisa berdampak pada keselamatan operator, kualitas sampel, hingga keamanan lingkungan sekitar.
Karena itu artikel ini disusun sebagai panduan menyeluruh mengenai cara penggunaan biosafety cabinet, mulai dari tahap persiapan, langkah penggunaan, proses setelah selesai bekerja, hingga cara perawatan dan maintenance yang perlu dilakukan agar kinerja BSC tetap optimal.
Namun sebelum melanjutkan, pastikan Anda sudah membaca artikel “Fungsi Biosafety Cabinet : Definisi, Jenis, dan Cara Kerjanya” dan artikel “Penjelasan Tipe Dan Kelas Biosafety Cabinet” untuk memahami cara kerja, perbedaan setiap kelas dan peran penting biosafety cabinet dalam aktivitas laboratorium.
Persiapan Sebelum Menggunakan BSC
Sebelum biosafety cabinet dinyalakan, terdapat beberapa tahap persiapan yang tidak boleh dilewatkan. Fase ini menjadi penentu apakah perangkat ini dapat memberikan perlindungan optimal baik untuk operator, sampel, maupun lingkungan.
Berikut persiapan sebelum menggunakan biosafety cabinet :
1. Memastikan Kondisi Lingkungan
Langkah pertama adalah memeriksa kondisi ruangan tempat BSC berada. Pada Kelas I dan II, kestabilan tekanan ruangan sangat berpengaruh pada inflow. Ruangan dengan lalu lintas tinggi atau adanya hembusan udara eksternal dapat langsung mengacaukan pola aliran udara.
Pastikan pintu ruangan tertutup untuk mencegah fluktuasi tekanan.
Hindari lalu-lintas orang di belakang operator.
Pastikan tidak ada AC atau ventilasi yang mengarah langsung ke sash karena dapat mengubah pola airflow yang telah dikalibrasi.
Pada Kelas III, gangguan aliran eksternal lebih kecil memengaruhi operator, namun tetap dapat mengganggu sistem tekanan negatif dan pass-box.
2. Periksa Fisik, Sertifikasi, dan Sarung Tangan
Setiap BSC memiliki batas waktu sertifikasi yang memastikan performanya masih sesuai standar keselamatan. Karena itu, pemeriksaan visual cepat perlu dilakukan sebelum memulai pekerjaan.
Pastikan sertifikasi masih berlaku dalam 12 bulan terakhir.
Perhatikan indikator kecepatan aliran udara seperti airflow meter atau magnehelic gauge. Pembacaan yang turun atau tidak stabil menunjukkan adanya potensi masalah pada blower atau filter HEPA. Pastikan tidak ada alarm yang aktif dan posisi sash sudah berada pada ketinggian operasional sesuai rekomendasi pabrikan.
- Kelas I & II : Pastikan inflow sesuai standar.
- Kelas III : Pastikan tekanan negatif internal tercapai (biasanya minimal -0.5 inchi WG).
Kondisi Sarung Tangan (Khusus Kelas III) : Ini sangat krusial. Periksa apakah ada retakan, lubang mikroskopis, atau keausan pada gloves karet yang terpasang pada kabinet. Kebocoran sekecil apa pun pada Kelas III adalah kegagalan fatal.
3. Menggunakan APD dan Menjaga Higiene Personel
Perlindungan operator tidak hanya berasal dari aliran udara BSC, tetapi juga dari perlengkapan yang digunakan. APD membantu mencegah kontak langsung dengan aerosol dan tumpahan.
Perlengkapan yang wajib dipakai mencakup:
- Lab coat dengan manset elastis untuk menghindari efek “menyapu” yang bisa memindahkan kontaminan.
- Sarung tangan nitril, dipakai menutupi manset untuk membuat segel pelindung di area pergelangan tangan.
- Masker dan kacamata keselamatan, terutama untuk prosedur yang berisiko tinggi menghasilkan aerosol.
4. Siapkan Alat dan Disinfektan
Sebelum blower dinyalakan, seluruh alat yang diperlukan harus sudah disiapkan. Pastikan alat dan bahan yang diperlukan sudah terkumpul agar meminimalkan frekuensi tangan keluar masuk yang dapat mengganggu stabilitas tirai udara.
Lalu siapkan disinfektan yang kompatibel dengan stainless steel, seperti pembersih dengan kandungan 70% Alkohol.
Khusus Kelas III, Pastikan material transfer (pass-box) atau dunk tank (tangki disinfektan) sudah siap dan terisi cairan disinfektan yang sesuai jika sistemnya menggunakan liquid transfer.
Langkah Penggunaan Biosafety Cabinet yang Benar
Setelah tahap persiapan selesai, operator dapat memasuki fase operasional biosafety cabinet. Tahap ini mencakup proses inisiasi, penataan area kerja, hingga teknik manipulasi sampel. Pembahasan akan dimulai dengan kelas I dan II, lalu dilanjut dengan kelas III
Berikut adalah proses penggunaan biosafety cabinet di kelas I dan II :
1. Inisiasi dan Sterilisasi Awal
Proses dimulai dengan memastikan seluruh sistem BSC dalam kondisi aktif dan aman digunakan.
- Hidupkan power utama apabila masih padam. Pada beberapa model, power utama berupa keyswitch atau switch tombol yang mengaktifkan seluruh sistem kontrol.
- Nyalakan unit menggunakan tombol power pada panel depan atau melalui remote control, bergantung pada desain pabrikan.
- Pastikan lampu UV berada dalam kondisi mati sebelum operator berada di depan kabinet. Sinar UV dapat merusak mata, kulit, dan material plastik di dalam ruang kerja.
Jika laboratorium menerapkan sterilisasi awal menggunakan UV:
- Pastikan sash tertutup sepenuhnya.
- Nyalakan UV selama ±15–30 menit sesuai SOP.
- Setelah selesai, matikan UV dan hidupkan kembali display apabila alat otomatis memasuki mode standby.
Tahap ini memastikan area kerja bebas kontaminan kasar sebelum blower dinyalakan.
2. Atur Sash dan Nyalakan Blower
Ketepatan posisi sash menjadi faktor penting untuk menjaga aliran udara yang ideal.
- Atur sash menggunakan footswitch hingga mencapai posisi operasional (biasanya 8–12 inci, sesuai desain kabinet).
- Nyalakan blower serta lampu kerja.
- Biarkan kabinet menjalankan purging awal selama 5–10 menit. Pada fase ini, BSC menstabilkan aliran laminar dan menggantikan udara ruangan yang mungkin mengandung partikel atau aerosol.
Purging awal adalah langkah krusial untuk memastikan setiap aktivitas dimulai dalam kondisi aliran udara yang bersih dan stabil.
3. Bersihkan Permukaan Area Kerja
Setelah airflow stabil, operator dapat mulai menyiapkan area kerja. Bersihkan permukaan kerja dengan pola dari belakang ke depan, bersihkan secara perlahan dan satu arah agar tidak merusak airflow. Dengan pola pembersihan ini akan mendorong kontaminan menuju grille depan di mana udara kotor akan tertarik masuk ke sistem filtrasi.
4. Masukan Alat yang Dibutuhkan
Masukkan seluruh peralatan yang diperlukan untuk sesi kerja dan susun mengikuti tiga zona utama:
- Zona Bersih (Clean): berisi media steril, pipet baru, dan perlengkapan yang belum terkontaminasi.
- Zona Kerja: area utama manipulasi sampel.
- Zona Kotor (Dirty): tempat limbah, aspirator, dan discard tray.
Pastikan tidak ada objek yang menutupi grille depan maupun belakang, sebab hambatan sekecil apa pun dapat mengganggu pola aliran udara laminar.
Zonasi yang tepat membantu operator bekerja secara efisien tanpa meningkatkan risiko kontaminasi silang.
5. Prosedur Kerja di Dalam BSC
Sebelum menyentuh sampel atau alat, operator harus memberi waktu bagi aliran udara untuk membersihkan area sekitar tangan.
- Biarkan lengan berada dalam aliran blower selama 30–60 detik. Ini membantu menghilangkan partikel dari permukaan sarung tangan.
- Gerakkan tangan dan alat secara perlahan. Kecepatan yang terlalu tinggi (lebih dari 0,2 m/s) dapat menciptakan turbulensi kecil yang mengganggu laminar flow.
- Tutup kembali setiap wadah setelah digunakan untuk mengurangi potensi aerosol atau kontaminasi sampel.
- Hindari penggunaan api terbuka, termasuk pembakar Bunsen gas, karena dapat merusak aliran udara dan membahayakan filter HEPA.
Teknik manipulasi yang benar memastikan perlindungan terhadap sampel dan operator tetap terjaga selama pekerjaan berlangsung.
6. Hal – Hal yang Perlu Diperhatikan Selama Bekerja
Ada beberapa praktik tambahan yang perlu diperhatikan selama fase operasional, terutama untuk menjaga alur kerja tetap aman dan stabil.
- Jika membutuhkan aliran listrik di dalam kabinet, aktifkan stop kontak internal menggunakan tombol socket yang tersedia pada panel kontrol.
- Setelah proses sentrifugasi, tunggu 1 – 2 menit sebelum membuka tabung. Waktu tunggu ini memberi kesempatan aerosol mengendap dan tersedot oleh aliran udara.
- Hindari kebiasaan mengeluarkan tangan berulang kali untuk membuang limbah. Wadah limbah harus ditempatkan di dalam BSC agar tirai udara tidak terganggu.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, operator dapat menjalankan seluruh rangkaian kerja dengan aman, efisien, dan sesuai standar operasional laboratorium.
Langkah Penggunaan Khusus Kelas III
- Inisiasi dan Sterilisasi Awal
Pastikan sistem tekanan negatif stabil sebelum melakukan apa pun. Jangan pernah membuka port jika tekanan belum mencapai target aman.
- Atur Posisi Gloves
Masukkan tangan Anda ke dalam port sarung tangan yang terpasang. Pastikan segel (O-ring) pada port sarung tangan terpasang rapat.
- Masukan Alat
Proses memasukan alat pada biosafety cabinet kelas III jauh lebih ketat, karena harus menggunakan Passbox. berikut adalah proses dalam memasukan alat ke BSC kelas 3 :
- Buka pintu luar passbox, masukkan alat.
- Tutup pintu luar.
- Tunggu waktu purging atau sterilisasi di dalam pass box.
- Masukkan tangan ke gloves, buka pintu dalam, lalu ambil alat. Catatan: Jangan pernah membuka pintu luar dan dalam passbox secara bersamaan karena akan merusak tekanan negatif (breach of containment).
- Prosedur Kerja di Dalam BSC Kelas III
Gerakan saat aktivitas sample akan lebih terbatas karena tebalnya sarung tangan karet. Bergeraklah perlahan untuk menghindari efek “piston” yang bisa memengaruhi tekanan internal.
Hal yang Tidak Boleh Dilakukan
Selama proses pengerjaan, efektivitas biosafety cabinet dapat hilang seketika jika operator melakukan tindakan ini :
1. Mengoperasikan Lampu UV Saat Bekerja
Lampu UV tidak boleh dinyalakan ketika operator berada di depan BSC. Radiasi UV dapat menimbulkan kerusakan serius pada mata dan kulit, serta dapat mengoksidasi material plastik di dalam kabinet. Jika UV digunakan sebagai bagian dari prosedur sterilisasi, penggunaannya hanya boleh dilakukan ketika kabinet tidak berpenghuni.
2. Mengabaikan Batas Ketinggian Sash (untuk kelas I dan II)
Sash memiliki batas operasional yang telah ditentukan melalui proses sertifikasi. Mengangkat sash di atas posisi tersebut akan merusak keseimbangan inflow dan downflow. Konsekuensinya dapat berupa hilangnya tirai udara pelindung, peningkatan turbulensi, serta risiko blowout yang mendorong aerosol keluar ke arah operator.
3. Menggunakan Api Terbuka di Dalam BSC
Penggunaan pembakar Bunsen atau sumber api terbuka lainnya tidak diperbolehkan di dalam Biosafety cabinet. Panas dari api memicu turbulensi, mengacaukan aliran laminar, dan berpotensi merusak media filter HEPA yang mudah terbakar. Untuk kebutuhan sterilisasi, gunakan micro-incinerator elektrik atau metode pemanasan rendah lainnya yang sudah sesuai standar keselamatan laboratorium.
4. Menggunakan Benda Tajam Sembarangan (Kelas III)
Pada Kelas III, penghalang utama antara Anda dan patogen mematikan hanyalah lapisan karet sarung tangan. Hindari penggunaan jarum suntik atau pecahan kaca sebisa mungkin.
5. Praktik Lain yang Langsung Mengganggu Aliran Udara
Selain larangan-larangan utama di atas, terdapat beberapa tindakan kecil yang memiliki dampak terhadap stabilitas tirai udara:
- Menutup grille depan atau belakang dengan berbagai material, atau bahkan lengan, karena dapat menghalangi jalur inflow.
- Menyemprotkan disinfektan langsung ke tumpahan besar. Tekanan semprotan dapat memindahkan aerosol ke udara bebas.
- Menggerakkan tangan atau alat dengan cepat, karena dapat menimbulkan turbulensi.
- Mengabaikan alarm. Alarm merupakan indikator penting adanya potensi kegagalan sistem.
- Menyimpan terlalu banyak barang di dalam kabinet. Penumpukan alat secara langsung mengganggu laminar flow dan meningkatkan risiko kontaminasi silang.
Dengan menghindari tindakan-tindakan ini, operator dapat memastikan bahwa kabinet bekerja sesuai desain dan risiko keselamatan tetap berada dalam batas yang dapat diterima.
SOP Setelah Selesai Bekerja
Meskipun aktivitas telah selesai, partikel aerosol masih dapat berada dalam aliran udara dan membutuhkan waktu untuk tersaring oleh sistem. Karena itu, setiap langkah penutupan harus dilakukan dengan urutan yang benar untuk memastikan kabinet kembali dalam kondisi aman dan siap untuk penggunaan berikutnya.
1. Menyelesaikan Proses Kerja
Langkah pertama adalah memastikan semua sampel dan alat ditangani dengan benar sebelum memulai proses pembersihan.
- Tutup seluruh wadah sampel atau media untuk mencegah aerosol keluar selama tahap penutupan.
- Buang seluruh limbah ke wadah biohazard yang berada di dalam kabinet agar tirai udara tidak terganggu.
- Lap permukaan luar alat yang akan dikeluarkan dari BSC menggunakan disinfektan untuk mencegah perpindahan kontaminan ke area luar.
- Untuk kelas III, semua barang yang keluar harus melewati proses dekontaminasi tingkat tinggi, seperti dunk tank, chemical pass-trough ataupun autoclave
Tahap ini membantu memastikan tidak ada materi berbahaya yang meninggalkan kabinet.
2. Bersihkan Ulang Area Kerja
Setelah area kerja dikosongkan, permukaan BSC harus dibersihkan ulang untuk menghilangkan residu yang mungkin tertinggal selama proses manipulasi.
- Bersihkan permukaan kerja, dinding samping, dan bagian dalam kaca sash(untuk kelas I dan II) menggunakan disinfektan yang sesuai.
- Jika menggunakan pemutih atau bahan berbasis klorin, lakukan pembilasan dengan air steril atau etanol setelah waktu kontak terpenuhi. Hal ini diperlukan untuk mencegah korosi pada permukaan stainless steel.
Disinfeksi ulang ini juga memastikan kabinet siap digunakan oleh operator berikutnya tanpa risiko kontaminasi silang.
3. Lakukan Purging Ulang
Meskipun permukaan sudah bersih, partikel mikroskopis masih dapat tersuspensi dalam aliran udara. Oleh karena itu, blower perlu dibiarkan beroperasi untuk beberapa menit sebelum kabinet dimatikan.
Biarkan blower menyala selama 5–10 menit untuk memastikan aerosol tersaring sepenuhnya dan aliran udara kembali stabil.
Purging akhir ini merupakan langkah penting dalam menjaga konsistensi performa sistem filtrasi HEPA.
4. Matikan Biosafety Cabinet
Untuk biosafety cabinet kelas I dan II, setelah purging selesai, kabinet dapat dimatikan secara bertahap. Mulai dari menurunkan sash secara perlahan menggunakan footswitch hingga posisi tertutup penuh, mematikan blower dan lampu kerja. Lalu jika laboratorium menerapkan post-sterilization dengan UV, nyalakan lampu UV selama 30–60 menit atau sesuai SOP setempat.
Sedangkan untuk kelas III, setelah purging selesai, matikan blower dan lampu kerja lalu pasang penutup port gloves sebelum power biosafety cabinet dimatikan
Tanda – tanda Diperlukan Maintenance Biosafety Cabinet
Biosafety Cabinet harus selalu berada dalam kondisi optimal karena fungsinya berkaitan langsung dengan keselamatan operator dan kualitas sampel. Setiap penurunan performa, sekecil apa pun, dapat mengindikasikan kegagalan containment yang berpotensi membahayakan. Karena itu, operator perlu memahami tanda-tanda awal bahwa BSC membutuhkan maintenance atau perbaikan.
1. Anomali pada Kecepatan Aliran Udara
Salah satu indikator paling sensitif dari kinerja BSC adalah kestabilan aliran udara. Jika airflow meter atau indikator digital menunjukkan nilai di bawah spesifikasi, atau jika sistem mengeluarkan alarm airflow, hal tersebut menandakan adanya gangguan pada blower, filter HEPA, atau jalur aliran udara.
Penurunan airflow juga dapat menyebabkan hilangnya tirai udara pelindung, sehingga BSC tidak lagi mampu menahan aerosol secara efektif.
2. Peningkatan Kebisingan dari Blower atau Motor
Blower yang bekerja dengan suara lebih keras dari biasanya merupakan sinyal awal masalah mekanik, seperti bearing aus, impeller yang tidak seimbang, atau obstruksi internal. Perubahan suara sekecil apa pun harus dicatat, karena kerusakan blower dapat langsung memengaruhi kecepatan aliran udara.
3. Munculnya Bau Tidak Biasa
Bau kimia atau bau biologis yang tercium di luar kabinet adalah indikator serius kegagalan filter exhaust atau adanya kebocoran pada segel containment. BSC seharusnya sepenuhnya menahan aerosol dan uap kimia yang dihasilkan selama bekerja, kebocoran bau hampir selalu menandakan kegagalan sistem filtrasi.
4. Indikasi Filter HEPA Mulai Jenuh
Tekanan diferensial adalah faktor penting yang menunjukkan beban kerja filter HEPA. Jika tekanan meningkat secara konsisten atau pembacaan gauge tidak stabil, filter kemungkinan mulai jenuh atau terdapat hambatan pada jalur aliran udara. Beberapa model BSC juga dilengkapi indikator visual yang berubah warna ketika filter mendekati batas kapasitasnya.
Filter HEPA yang jenuh tidak boleh ditunda penggantiannya karena dapat langsung memengaruhi kecepatan inflow dan downflow.
5. Kegagalan atau Kerusakan Komponen Penting
Kerusakan pada elemen seperti lampu UV, blower, panel display, atau sensor airflow harus segera ditindaklanjuti. Komponen-komponen tersebut merupakan bagian dari sistem keselamatan; satu kerusakan kecil saja dapat memengaruhi keseluruhan performa kabinet.
Selain tanda-tanda utama di atas, operator biasanya dapat mendeteksi gejala awal, seperti:
- Indikator airflow turun atau fluktuatif tanpa sebab jelas.
- Alarm berbunyi meskipun posisi sash sudah benar.
- Suara blower berubah menjadi kasar atau tidak stabil.
Khusus untuk kelas I dan II, hal yang harus diperhatikan adalah :
- Sash yang berat, tidak stabil, atau sulit digerakkan.
- Aliran downflow (Jika seolah ada “zona mati” di area kerja)
Dan husus untuk kelas III, hal yang harus diperhatikan adalah :
- retakan halus pada sarung tangan
- perubahan kelenturan sarung tangan
- perubahan warna pada sarung tangan
- kebocoran mikro akibat umur dari sarung tangan
Jika salah satu tanda ini muncul, BSC tidak boleh digunakan sampai teknisi melakukan pemeriksaan dan memastikan kabinet kembali memenuhi standar keselamatan operasional.
Jenis Maintenance Rutin
Pemeliharaan rutin pada Biosafety Cabinet terdiri dari dua kategori utama, yaitu Preventive Maintenance (PM) dan Dekontaminasi Menyeluruh (Fumigasi Gas).
1. Pemeliharaan Preventif (PM)
Preventive Maintenance adalah pemeliharaan terjadwal yang bertujuan menjaga performa BSC tetap stabil dan mencegah terjadinya kerusakan mendadak. PM mencakup seluruh inspeksi dan pengecekan yang dilakukan secara harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan, masing-masing dengan fokus berbeda namun saling melengkapi.
PM Harian
Dilakukan setiap kali BSC digunakan, bertujuan memastikan kabinet aman untuk operasi jangka pendek.
Kegiatan ini meliputi :
- Memeriksa alarm, airflow gauge, dan kondisi visual plenum.
- Membersihkan permukaan kerja sebelum dan sesudah pemakaian.
- Membilas area yang terkena bahan kimia korosif.
- Memeriksa catch pan jika ada indikasi cairan masuk melalui grille.
- Menjaga area sekitar kabinet bebas clutter agar airflow tidak terganggu.
PM Mingguan
Pemeriksaan ini berfokus pada stabilitas komponen pendukung
Kegiatan ini meliputi :
- Membersihkan lampu UV dari debu agar tidak menurunkan intensitas sinar.
- Membersihkan permukaan eksterior BSC, termasuk sisi samping dan belakang.
- Mengecek kondisi kabel dan stop kontak internal.
PM Bulanan
Ditujukan untuk inspeksi area yang jarang terlihat, tetapi memiliki risiko kerusakan tinggi.
Kegiatan ini meliputi:
- Membersihkan dan memeriksa drain pan dari akumulasi tumpahan media.
- Mengevaluasi kondisi gasket, seal, serta sambungan kaca untuk mendeteksi kebocoran udara.
- Mengecek kondisi fisik sarung tangan (untuk kelas III)
PM Tahunan
Dilakukan oleh teknisi tersertifikasi dan menjadi bagian dari proses sertifikasi BSC.
Prosedurnya mencakup :
- Pengukuran inflow (untuk kelas I dan II)
- Pengukuran downflow (untuk kelas II).
- HEPA Filter Leak Test dengan aerosol PAO.
- Smoke Pattern Test untuk memastikan tirai udara stabil dan tidak turbulen.
- Kalibrasi sensor airflow, pressure gauge, dan instrumen pemantau lainnya.
PM tahunan merupakan indikator utama apakah kabinet masih aman digunakan untuk pekerjaan yang menghasilkan aerosol atau patogen risiko sedang–tinggi.
2. Dekontaminasi Menyeluruh (Fumigasi Gas)
Fumigasi merupakan prosedur sterilisasi tingkat lanjut yang dilakukan hanya ketika BSC harus dibuka, diperbaiki, dipindahkan, atau mengalami tumpahan besar yang mencapai bagian internal.
Proses ini menggunakan sterilan gas seperti Vaporized Hydrogen Peroxide (VHP) atau Chlorine Dioxide, yang disirkulasikan dalam siklus tervalidasi untuk mensterilkan seluruh ruang internal, termasuk filter dan plenum. Fumigasi wajib dilakukan oleh teknisi bersertifikat.
3. Uji Kebocoran Sarung Tangan (Khusus Kelas III)
Harus dilakukan secara rutin menggunakan alat uji tekanan khusus untuk mendeteksi lubang jarum yang tidak kasat mata.
Sertifikasi Biosafety Cabinet
Sertifikasi adalah evaluasi kinerja menyeluruh yang memastikan BSC benar-benar menjalankan fungsi perlindungan sesuai standar internasional.
Kenapa BSC Harus Disertifikasi?
Sertifikasi memastikan seluruh parameter kritis berada dalam rentang aman dan kabinet mampu menahan bioaerosol sesuai desainnya.
Melalui sertifikasi, teknisi memverifikasi bahwa:
- Aliran udara sesuai spesifikasi dan cukup untuk menahan aerosol.
- Filter HEPA tidak mengalami kebocoran, karena kebocoran sekecil apa pun dapat melepaskan partikel berbahaya ke lingkungan.
- Pola aliran udara tetap stabil, tanpa turbulensi, reflux, atau dead zone.
- Perlindungan operator, kualitas produk, dan keselamatan lingkungan benar-benar terjamin.
- Kepatuhan terhadap standar akreditasi laboratorium (ISO, GLP, BSL-2/3) tetap terpenuhi.
Tanpa sertifikasi yang valid, biosafety cabinet tidak boleh digunakan untuk pekerjaan yang menghasilkan aerosol, kultur sel steril, atau penanganan patogen.
Jenis sertifikasi
Jenis sertifikasi biasanya mencakup dua kategori utama:
- Initial Certification
Dilakukan saat BSC pertama kali dipasang atau setelah relokasi. Evaluasi ini memastikan kabinet terintegrasi dengan benar terhadap lingkungan laboratorium, exhaust system, dan parameter tekanan ruangan. - Annual / Routine Certification
Sertifikasi berkala yang menilai performa kabinet selama masa pakai.
Beberapa fasilitas dengan persyaratan sterilitas tinggi seperti lingkungan farmasi Grade A atau ISO 5 mewajibkan sertifikasi tambahan atau revalidasi proses dua kali setahun.
Seberapa Sering Sertifikasi Harus Dilakukan?
Standar internasional menetapkan bahwa BSC wajib disertifikasi setiap 12 bulan. Namun, beberapa kondisi mengharuskan sertifikasi ulang sebelum periode tersebut berakhir.
Berikut adalah beberapa kondisi tersebut :
- Setelah kabinet dipindahkan
bahkan jika hanya bergeser beberapa meter. Relokasi dapat mengubah tekanan ruangan atau keseimbangan exhaust. - Setelah perbaikan besar
termasuk blower, motor, sensor aliran udara, atau penggantian filter HEPA. - Setelah tumpahan biologis besar
yang berpotensi masuk ke plenum internal. - Setelah insiden atau kegagalan sistem
yang memengaruhi airflow atau integritas fisik kabinet.
Untuk beberapa aplikasi sensitif, seperti produksi obat steril, sertifikasi dapat dilakukan dua kali setahun (bi-annually) sesuai SOP fasilitas dan regulasi industri.
Kalibrasi Biosafety Cabinet
Kalibrasi merupakan proses penyesuaian dan verifikasi akurasi instrumen pengukuran pada Biosafety Cabinet, seperti airflow sensor, velocity meter, pressure sensor, dan magnehelic gauge. Berbeda dengan sertifikasi yang menilai performa keseluruhan kabinet, kalibrasi memastikan bahwa instrumen pemantau memberikan data yang benar sehingga keputusan operasional dapat dilakukan secara aman.
Kenapa Biosafety Cabinet Harus Dikalibrasi?
Kalibrasi diperlukan untuk memastikan bahwa semua indikator dan sensor yang dipantau operator memberikan nilai yang akurat. Ketidaktepatan pembacaan airflow dapat menciptakan situasi “false sense of security,” di mana kabinet tampak aman padahal aliran udara tidak memenuhi standar. Jika sensor melenceng, sertifikasi pun tidak dapat dinyatakan valid karena seluruh pengujian bergantung pada data yang presisi.
Melalui kalibrasi, teknisi memastikan bahwa nilai airflow yang tertera di panel benar-benar mencerminkan kondisi aktual di dalam kabinet, Alarm airflow merespons pada ambang batas yang benar dan tidak menghasilkan false positive atau false negative, Sistem kontrol blower bekerja sesuai parameter yang dirancang.
Tanpa kalibrasi yang tepat, operator tidak dapat mengandalkan indikator biosafety cabinet untuk menilai keamanan kerja.
Seberapa Sering Kalibrasi Harus Dilakukan?
Kalibrasi umumnya dilakukan bersamaan dengan sertifikasi tahunan karena kedua proses ini saling terkait. Namun beberapa kondisi mengharuskan kalibrasi dilakukan lebih cepat dari jadwal rutin, antara lain:
- Ketika pembacaan airflow tampak tidak realistis atau tidak konsisten dengan performa fisik kabinet.
- Ketika alarm airflow sering aktif tanpa sebab jelas atau sebaliknya gagal berbunyi saat terjadi gangguan.
- Setelah penggantian blower, sensor, atau komponen lain yang dapat memengaruhi tekanan dan aliran udara.
Kalibrasi wajib dilaksanakan oleh teknisi profesional menggunakan alat ukur yang traceable, misalnya tersertifikasi oleh NIST atau standar nasional lain, agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan memahami seluruh tahapan mulai dari persiapan, teknik penggunaan, larangan penting, dekontaminasi setelah bekerja, hingga perawatan dan evaluasi berkala, laboratorium dapat mempertahankan performa biosafety cabinet tetap optimal sepanjang waktu. Penggunaan yang sesuai SOP bukan hanya meningkatkan keselamatan operator, tetapi juga menjamin integritas sampel serta mencegah risiko kontaminasi lingkungan.
Panduan ini diharapkan menjadi referensi komprehensif bagi setiap pengguna BSC. baik operator baru, analis laboratorium, maupun teknisi fasilitas. Dengan praktik yang benar dan pemeliharaan yang tepat, Biosafety Cabinet akan selalu menjadi perangkat perlindungan yang andal dan efektif dalam menunjang kegiatan.
Sumber dan Referensi :
- Laboratory Biosafety Manual, 4th Edition. World Health Organization, 2020.
https://www.who.int/publications/i/item/9789240011311 - CDC / NIH. Biosafety in Microbiological and Biomedical Laboratories (BMBL), 6th Edition.
https://stacks.cdc.gov/view/cdc/97733 - ANSI / NSF. NSF/ANSI 49–2024: Biosafety Cabinetry – Design, Construction, Performance, and Field Certification.
https://blog.ansi.org/ansi/nsf-ansi-49-2024-biosafety-cabinets-bscs/ - Public Health Agency of Canada. Canadian Biosafety Standard, Third Edition.
https://www.canada.ca/en/public-health/services/canadian-biosafety-standards-guidelines/third-edition.html

