Table of Contents

Panduan Instalasi Biosafety Cabinet: Standar Ruangan, Prosedur, dan Aplikasinya

instalasi biosafety cabinet
generated by ai

Biosafety Cabinet (BSC) merupakan komponen penting dalam sistem keselamatan laboratorium. Fungsinya tidak hanya melindungi personel, tetapi juga menjaga integritas sampel serta mencegah kontaminasi lingkungan.

Sebagai sebuah sistem keamanan berbasis aliran udara, performa perlindungannya sangat dipengaruhi oleh bagaimana kabinet tersebut ditempatkan, diintegrasikan dengan kondisi ruangan, serta didukung oleh sistem pendukung di sekitarnya. Oleh karena itu, kinerja BSC sangat bergantung pada kualitas instalasi dan kesesuaian lingkungan operasionalnya. Kesalahan kecil pada tahap awal dapat berujung pada kegagalan containment, dan sangat berisiko dalam jangka panjang.

Berdasarkan hal tersebut, artikel ini merangkum panduan instalasi biosafety cabinet berdasarkan kelasnya dengan mengacu pada standar internasional yang paling banyak diterapkan di lapangan. Namun sebelum masuk ke pembahasan teknis, anda bisa membaca “Fungsi Biosafety Cabinet : Definisi, Jenis, dan Cara Kerjanya” untuk memahami terlebih dahulu fungsi dasar biosafety cabinet agar prinsip instalasi dapat dipahami secara utuh.

Pentingnya Instalasi yang Benar

Instalasi Biosafety Cabinet (BSC) yang tidak tepat dapat merusak kinerja aerodinamis kabinet, sehingga secara langsung menghilangkan tiga tingkat perlindungan yang seharusnya diberikan.

Dalam operasional, gangguan pola aliran udara paling sering muncul pada sistem aliran masuk dan aliran internal kabinet. Integritas biosafety cabinet sangat bergantung pada kecepatan dan stabilitas aliran udara masuk (inflow). Jika BSC ditempatkan di area yang rentan terhadap gangguan aliran udara eksternal, tirai udara di bukaan depan dapat melemah dan menurunkan perlindungan operator.

Selain itu, gangguan tersebut berimplikasi langsung terhadap kepatuhan Good Manufacturing Practice (GMP). Karena itu, pemenuhan persyaratan penempatan dan instalasi menjadi langkah awal yang krusial agar biosafety cabinet mampu mencapai kriteria kinerja dan dinyatakan layak saat proses sertifikasi lapangan.

 

Persyaratan Infrastruktur dan Ruangan

Sebelum unit dipasang, ruangan harus dievaluasi dari sisi tekanan, lokasi sumber turbulensi, struktur lantai, hingga ketersediaan exhaust dan listrik. Persiapan yang tepat mencegah masalah balancing airflow yang sering kali mahal dan sulit diperbaiki setelah instalasi selesai.

Desain Ruangan dan Lokasi BSC di Ruangan

Biosafety cabinet harus ditempatkan jauh dari sumber turbulensi seperti pintu, jalur lalu lintas padat, dan diffuser AC. Kecepatan udara yang mengenai kabinet tidak boleh melebihi 50 FPM, karena dapat mengganggu inflow yang melindungi operator.

Penempatan BSC harus mempertimbangkan stabilitas struktur dan pola aliran udara ruangan. Permukaan lantai wajib rata dan cukup kuat untuk menopang bobot kabinet, terutama untuk unit berukuran besar atau BSC Kelas III dengan konstruksi baja tebal. Getaran struktural, meskipun tampak sepele, dapat memengaruhi kestabilan aliran udara laminar dan mempercepat degradasi segel filter HEPA.

Lantai ruangan harus rata dan cukup kuat menopang kabinet, terutama unit besar atau Kelas III yang lebih berat. Getaran kecil pun dapat merusak pola laminar dan memperpendek umur seal HEPA.

Persiapan lantai meliputi pembersihan area, memastikan kerataan, dan jika perlu penambahan perkuatan untuk kabinet berstruktur baja tebal.

Jarak Penempatan Biosafety Cabinet

Secara umum, biosafety cabinet harus berjarak minimal 1 meter dari sumber turbulensi seperti pintu yang sering dibuka, jendela, diffuser AC, fume hood atau peralatan penghisap kuat lainnya. Aturan ini berlaku untuk semua kelas BSC agar tirai udara (air curtain) tetap stabil dan pola aliran internal tidak terganggu.

Berikut adalah persyaratan lengkap jarak penempatan biosafety cabinet :

 

Persyaratan Jarak

Jarak Minimum

Tujuan Kritis Keselamatan

Dari dinding/kolom yang berdekatan

12 inci (30 cm)

Memastikan akses servis (sertifikasi/penggantian filter) dan menghindari efek wall-eddy yang menyebabkan turbulensi di sisi kabinet.

Antara dua unit BSC

12 inci (30 cm)

Mengurangi gangguan aliran udara silang dan kompetesi airflow antar kabinet.

Ruang terbuka di depan BSC

40 inci (102 cm)

Memberikan ruang gerak aman untuk operator serta mengurangi gangguan aliran akibat langkah cepat

Dari belakang pintu masuk

60 inci (152 cm)

Menghindari hembusan frontal kuat saat pintu terbuka yang dapat merusak air curtain.

Dari sisi engsel pintu

12 inci (30 cm)

Memungkinkan akses servis.

Dari sisi ayunan pintu

40 inci (102 cm)

Mencegah hembusan udara mendadak dari ayunan pintu.

Dari dinding tegak lurus (perpendicular)

48 inci (122 cm)

Menghindari terbentuknya pusaran udara pada sudut ruangan.

 

Koneksi Listrik

Biosafety cabinet harus terhubung ke sirkuit listrik khusus (dedicated circuit) dengan spesifikasi umumnya 220 Volt dan frekuensi 50 Hz. Pemisahan sirkuit ini memastikan BSC tidak berbagi beban dengan peralatan laboratorium lain, sehingga risiko pemadaman mendadak atau drop tegangan dapat dihindari.

Pada praktik instalasi di lapangan, teknisi biasanya memeriksa tiga hal utama sebelum unit dinyalakan:

  1. Kapasitas daya
    Kapasitas daya mencukupi beban total BSC, termasuk blower utama, lampu LED internal, lampu UV, outlet internal (biasanya dibatasi ±500–800 W tergantung model).
  2. Stabilitas tegangan
    Fluktuasi tegangan dapat membuat blower kehilangan kecepatan (drop inflow), memicu alarm, atau menyebabkan hasil sertifikasi gagal. Untuk ruangan dengan kualitas listrik tidak stabil, teknisi biasanya menyarankan penggunaan stabilizer atau UPS online untuk menjaga kelancaran startup dan mempertahankan aliran udara yang stabil.
  3. Aksesibilitas pemutus daya (main disconnect)
    Lokasi tombol pemutus daya harus mudah dijangkau oleh personel berwenang untuk keadaan darurat. terutama pada BSC ducted yang terhubung dengan blower eksternal.

Dengan memenuhi tiga poin ini, unit dapat dinyalakan tanpa risiko merusak blower, modul kontrol, atau sensor aliran udara.

Sistem Pendukung untuk instalasi

Setelah kebutuhan ruangan terpenuhi, tahap berikutnya adalah menyiapkan sistem pendukung. Komponen-komponen ini harus diverifikasi sebelum BSC diposisikan, karena menentukan apakah kabinet dapat memenuhi standar NSF/ANSI 49.

Berikut adalah sistem pendukung biosafety cabinet :

  1. Sistem Exhaust Gedung (khusus A2 ducted, B2, dan Kelas III)
    Tipe biosafety cabinet ducted sangat bergantung pada performa exhaust gedung. Kalau hisapannya tidak stabil, kabinet tidak akan bisa mempertahankan inflow dan downflow sesuai standar, dan hasilnya hampir pasti gagal sertifikasi. Karena itu, kondisi exhaust harus dipastikan dulu sebelum kabinet tiba.
    Hal utama yang dicek teknisi adalah apakah blower gedung cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan aliran udara kabinet. Tekanan di dalam duct juga harus berada pada kisaran yang direkomendasikan pabrikan. Jalur ducting tidak boleh terlalu berliku, karena tikungan yang berlebihan mengurangi stabilitas aliran udara. Selain itu, damper harus tersedia untuk balancing airflow, dan non-return valve diperlukan untuk mencegah udara balik ke ruangan jika sistem exhaust tiba-tiba berhenti.
    Untuk BSC Tipe B2 dan Kelas III, exhaust adalah komponen yang benar-benar krusial. Jika aliran exhaust terputus atau tidak stabil, kabinet langsung kehilangan seluruh fungsi perlindungannya dan tidak boleh dioperasikan sama sekali.

  1. Persiapan Ventilasi dan Perpipaan
    Jika BSC membutuhkan suplai gas, air, atau vakum, jalur perpipaan harus disiapkan sebelum kabinet tiba. Untuk kabinet yang memerlukan hard-ducting, jalur ducting harus sudah dipasang dan diuji kebocoran sebelum BSC diposisikan.
    Persiapan ini mencakup:

    • memastikan posisi outlet gas/vakum tidak mengganggu aliran laminar di area kerja,
    • memastikan semua sambungan utilitas dapat disegel dengan baik (air-tight),
    • memastikan titik exhaust telah disesuaikan dengan koordinat pemasangan kabinet.

  • Pada instalasi kelas B2 atau III, teknisi biasanya melakukan inspeksi ulang ducting sebelum kabinet diletakkan, karena kesalahan kecil dalam jalur duct dapat menyebabkan ketidakstabilan tekanan dan kegagalan sertifikasi.

 

Standar Instalasi Biosafety Cabinet

Hal penting berikutnya yang wajib diketahui setelah persyaratan ruangan adalah standar standar instalasi. Instalasi biosafety cabinet yang benar harus memenuhi standar global, berikut adalah beberapa standar yang digunakan :

NSF/ANSI 49

Standar ini mengatur desain, konstruksi, performa, dan prosedur sertifikasi lapangan BSC Class II. Validasi berdasarkan standar ini memastikan kabinet mencapai kecepatan inflow dan downflow yang stabil, integritas HEPA terjaga, kebisingan sesuai batas, serta performa motor/blower optimal.

ISO 14644 1 & 2

Standar ini menetapkan batas konsentrasi partikel untuk setiap kelas kebersihan udara di area steril, termasuk persyaratan ISO Class yang harus dicapai untuk penempatan class biosafety cabinet tertentu. Instalasi yang tepat membantu BSC mempertahankan kondisi kebersihan tersebut selama operasi.

Pedoman WHO dan GMP

Pedoman WHO dan GMP menetapkan persyaratan lingkungan dan kualitas proses untuk pekerjaan aseptik, sehingga instalasi BSC harus mendukung kondisi udara yang stabil baik di dalam kabinet maupun di ruang sekitarnya. Standar ini mewajibkan kabinet terpasang secara stabil, bebas getaran, dan tidak terpapar turbulensi agar mampu mempertahankan kualitas udara yang dibutuhkan saat dioperasikan.
Kualitas instalasi kemudian dibuktikan melalui kualifikasi IQ/OQ/PQ, yang memastikan bahwa pemasangan, koneksi utilitas, dan performa awal kabinet memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan untuk proses aseptik.

 

Instalasi Biosafety Cabinet Berdasarkan Class

Setelah seluruh aspek ruangan mulai dari tekanan udara, lokasi turbulensi, hingga kelistrikan dipastikan memenuhi standar instalasi, langkah selanjutnya adalah memasang kabinet serta memastikan setiap komponen bekerja sesuai desainnya.

Berikut tahapan proses instalasi biosafety cabinet :

Inspeksi Unit Saat Kedatangan

Langkah pertama dalam instalasi biosafety cabinet adalah inspeksi menyeluruh setelah kedatangan unit. Pemeriksaan fisik diperlukan untuk mendeteksi kerusakan yang mungkin terjadi selama pengiriman, seperti retakan pada konstruksi dinding ganda atau kerusakan pada kaca kerja.

Penempatan dan Perakitan

Setelah inspeksi, BSC dipindahkan ke lokasi yang telah disetujui. Unit harus diposisikan menggunakan stand atau jack yang disediakan oleh produsen.

Lalu rakit semua komponen utama, termasuk pemasangan base stand dan semua aksesoris. Pastikan ketinggian biosafety cabinet bersifat ergonomis bagi operator. Penggunaan penyangga kaki (foot support) mungkin diperlukan jika kaki operator tidak mencapai lantai atau untuk kenyamanan punggung selama periode kerja yang lama. 

Kemudian pastikan permukaannya rata dan tidak miring. Gunakan spirit level untuk leveling dengan sempurna. Koneksi semua saluran utilitas, termasuk gas, air, dan koneksi listrik, harus diselesaikan sesuai dengan diagram instalasi pabrik. Semua segel utilitas yang melewati kabinet harus kedap udara untuk menjaga integritas kabinet anti-bocor.

Setelah semua siap, tahap berikutnya adalah instalasi tambahan dan koneksi unik yang diperlukan sesuai dengan karakteristik biologis dan mekanisme aliran udara masing-masing kelas.

Namun, mengingat setiap kelas biosafety cabinet memiliki karakteristik airflow yang berbeda, ada baiknya memahami spesifikasi unit yang Anda gunakan terlebih dahulu. Anda dapat membaca artikel “Tipe dan Kelas Biosafety Cabinet: Panduan Memilih BSC Sesuai Kebutuhan Laboratorium” untuk memastikan prosedur instalasi berikut sesuai dengan kelas yang tepat.

Instalasi Biosafety Cabinet Class I

Karena Kelas I hanya menyaring udara buang, unit ini sering kali tidak memerlukan ducting keras, kecuali jika digunakan untuk menangani bahan yang menghasilkan uap berbahaya atau berbau yang harus dibuang keluar fasilitas. Jika ducting diperlukan, instalasinya relatif lebih sederhana dibandingkan dengan Kelas II Tipe B2, karena BSC Kelas I sudah memiliki HEPA filter pada saluran buang.

Instalasi Biosafety Cabinet Class II

Tipe A2

Pada proses instalasinya, BSC Tipe A2 umumnya tidak memerlukan ducting keras karena sebagian besar udara disirkulasikan kembali. Namun, jika kabinet digunakan bersama bahan volatil meski dalam jumlah kecil, maka diperlukan opsi pembuangan tambahan melalui sambungan thimble (canopy). Melalui koneksi ini, sekitar 30% udara buangan dapat dialirkan ke luar gedung tanpa mengganggu stabilitas airflow internal kabinet.

Berikut adalah detail instalasi thimble :

  • Pemasangan Thimble
    Thimble diposisikan dan dipasang di atas saluran exhaust BSC.

  • Celah Udara
    Celah udara harus dipertahankan kecil (umumnya sekitar 5 cm) antara thimble dan exhaust housing Celah ini memungkinkan udara ruangan ditarik ke dalam sistem exhaust ducting.

  • Kebutuhan Blower Fasilitas
    Sistem exhaust gedung harus memiliki kapasitas hisap yang cukup untuk menarik kedua aliran udara: udara yang dibuang BSC dan udara ruangan yang masuk melalui celah thimble.
    Dalam beberapa kondisi, damper control pada sistem exhaust mungkin diperlukan untuk mengontrol tekanan dalam ruangan. Selain itu, pemasangan katup backflow dianjurkan mencegah udara luar mengalir kembali melalui thimble apabila terjadi kegagalan daya.

Tipe B2

Karena BSC Tipe B2 adalah total exhaust (100% pembuangan) dan digunakan dengan zat kimia volatil dalam jumlah signifikan, instalasinya menuntut koneksi langsung (hard-ducted) ke sistem exhaust independen. 

Berikut poin – poin utama yang harus diperhatikan selama instalasi :

  1. Sambungan Keras (Hard-Ducted)
    BSC Tipe B2 harus disambungkan secara keras (hard-connected) ke sistem exhaust fasilitas.
  2. Metode Penyambungan Fleksibel:
    Meskipun sambungan keras diperlukan, koneksi langsung yang kaku (misalnya, pengelasan) sangat tidak disarankan karena dapat merusak filter exhaust atau butterfly valve internal. Untuk mencegah hal tersebut, lebih disarankan menggunakan selongsong silikon (silicone sleeve) yang fleksibel.
    Selongsong ini dipasang di antara outlet kabinet dan ducting fasilitas dengan jarak maksimum sekitar 5 cm (2 inci). Ruang kecil tersebut memberi toleransi terhadap pergerakan, meredam getaran, dan menjaga komponen internal kabinet tetap aman, terutama saat sistem exhaust bekerja pada tekanan yang berubah-ubah.
  3. Pemasangan Remote Blower
    B2 memerlukan remote blower atau sistem exhaust fasilitas independen yang didedikasikan untuk unit tersebut. Proses pemasangannya dimulai dengan menempatkan braket kipas eksternal pada dinding luar atau struktur padat yang mampu menahan beban.
    Setelah braket terpasang, tempatkan kipas exhaust eksternal pada braket dan kencangkan dengan baut dan mur (misalnya, baut hex head M8*25). 
    Selanjutnya hubungkan pipa ducting fleksibel atau kaku dari air outlet kabinet ke intake kipas eksternal, melewati dinding atau jendela. Pastikan rute pipa minimal, menghindari banyak tikungan, dan panjang pipa yang digunakan memadai (misalnya, standar 4.3 meter atau sesuai kebutuhan aktual).
    Dan terakhir, hubungkan pipa ducting fleksibel atau kaku dari air outlet kabinet ke intake kipas eksternal, biasanya melalui jalur dinding atau jendela. Pada tahap ini, pastikan rute dan tikungan pipa ducting seminimal mungkin, serta panjang pipa yang digunakan memadai untuk kebutuhan instalasi (misalnya, standar 4.3 meter atau sesuai kebutuhan aktual).

 

Instalasi Biosafety Cabinet Class III

Berbeda dari Class I dan II yang masih memiliki interaksi langsung dengan udara ruangan, BSC Class III beroperasi sebagai isolator sepenuhnya tertutup, sehingga seluruh proses instalasinya berfokus pada kekedapan gas (gas-tight integrity) dan stabilitas tekanan negatif. Karena itu, tahapan berikut harus dilakukan.

  1. Pemasangan Komponen Kedap Gas
    Langkah pertama adalah memastikan semua jalur keluar–masuk udara dapat dikendalikan secara penuh.
    Pasang katup kupu-kupu kedap gas (gas-tight butterfly valves) berdiameter 7,6 cm (3 inci) pada saluran exhaust. Katup ini memungkinkan penyesuaian aliran udara sekaligus menyediakan kemampuan full sealing ketika kabinet perlu diisolasi total, misalnya selama proses dekontaminasi.
    Jika unit dilengkapi port dekontaminasi, hubungkan port baja tahan karat tersebut dengan generator gas/uap dekontaminan menggunakan quick-clamp couplings.
    Lokasi port harus dipastikan dapat mendistribusikan dekontaminan secara merata agar seluruh ruang kerja mencapai konsentrasi yang efektif.

  2. Sistem Exhaust Independen
    Setelah seluruh koneksi utilitas aman, barulah sistem pembuangan udara dipasang. BSC Class III wajib dihubungkan ke sistem exhaust independen yang bekerja secara kontinu menjaga tekanan negatif.
    Standar tekanan negatif operasional umumnya adalah –500 Pa hingga –750 Pa, atau –2″ hingga –3″ kolom air (H₂O).
    Stabilitas tekanan ini sangat krusial. Fluktuasi kecil saja bisa mengganggu performa isolator dan meningkatkan risiko kebocoran, sehingga desain ducting, kapasitas blower, dan stabilitas sistem harus dipastikan sebelum kabinet dinyatakan siap digunakan.

 

Validasi dan Sertifikasi

Setelah instalasi fisik selesai, BSC tidak dapat langsung digunakan. Harus dilakukan tahap validasi dan sertifikasi lapangan untuk memastikan seluruh sistem bekerja sesuai standar, mulai dari stabilisasi aliran udara hingga verifikasi integritas filtrasi. Berikut adalah rangkaian pengujian yang dilakukan.

Initial Start-up

Initial start-up merupakan tahap awal validasi setelah instalasi. Tujuannya adalah menstabilkan sistem airflow dan memastikan komponen mekanik bekerja pada kondisi operasi yang benar.

Prosesnya meliputi :

  1. Periode Warm-up
    Unit harus dinyalakan dan dibiarkan beroperasi selama 15 – 30 menit.
    Tujuannya adalah menstabilkan suhu motor blower dan komponen kelistrikan agar kecepatan aliran udara internal mencapai kondisi operasi yang konsisten.
  2. Verifikasi Awal
    Selama warm-up, teknisi harus memantau panel control untuk memastikan kecepatan aliran udara berada dalam rentang operasional pabrik.
  3. Verifikasi Tambahan untuk Kelas II dan III
    Setelah warm-up, kabinet tertentu memerlukan pengecekan tambahan seperti verifikasi kecepatan inflow dan downflow untuk kelas II dan verifikasi tekanan negatif pada kelas III stabil pada kisaran operasi

Pengujian Kinerja Aliran Udara (Airflow Velocity Test)

Tahapan ini dilakukan untuk memastikan bahwa kabinet mampu membentuk penghalang aerodinamis yang benar.

Pada Kelas I dan II, kecepatan aliran udara masuk (inflow) diukur untuk memastikan aerosol tertarik ke dalam kabinet dan tidak keluar menuju operator.
Pada Kelas II, downflow diukur untuk memastikan distribusi udara bersih yang stabil di area kerja.
Sementara itu, Kelas III tidak menggunakan pola inflow/downflow seperti kabinet lainnya, sehingga pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah sistem sudah tertutup sepenuhnya.

Pengujian Integritas Filter HEPA (DOP/PAO Leak Test)

Pengujian dilakukan setelah airflow dinyatakan benar, untuk memastikan sistem filtrasi bekerja tanpa kebocoran. Tes ini dilakukan dengan cara menyuntikkan aerosol (PAO/DOP) di sisi hulu, lalu memindai sisi hilir menggunakan photometer untuk memastikan tidak ada kebocoran pada media filter, bingkai, maupun seal.

Pada Kelas I, hanya filter exhaust yang diuji.
Pada Kelas II, pengujian mencakup filter supply dan exhaust.
Sementara pada Kelas III, seluruh jalur filtrasi (termasuk konfigurasi double HEPA pada jalur buangan) harus diverifikasi.

Pengujian Khusus Kelas III (Pressure Decay Test)

Untuk BSC Kelas III yang dirancang sebagai isolator kedap gas, uji tekanan menjadi tahapan wajib. Pengujian ini memastikan struktur kabinet benar-benar gas-tight dan mampu mempertahankan tekanan negatif tanpa kebocoran.
Jika terjadi peningkatan tekanan di luar batas yang diperbolehkan, berarti ada kebocoran struktural yang harus diperbaiki sebelum kabinet dapat disertifikasi.

Pengujian Tambahan

Selain pengujian inti, terdapat beberapa pemeriksaan pendukung yang umum dilakukan untuk melengkapi sertifikasi, seperti:

  • uji keselamatan listrik,
  • pengukuran tingkat kebisingan,
  • uji pencahayaan,
  • uji getaran,
  • serta containment test untuk Kelas II dan III.

Pengujian-pengujian ini membantu memastikan bahwa BSC tidak hanya aman dari sisi biosafety, tetapi juga nyaman dan layak digunakan sehari-hari.

 

Penerapan Biosafety Cabinet

Setelah seluruh persyaratan ruangan, instalasi, serta proses validasi dan sertifikasi terpenuhi, barulah biosafety cabinet dapat digunakan di berbagai fasilitas.

Setiap jenis pekerjaan laboratorium memiliki kebutuhan biosafety yang berbeda, sehingga pemilihan kelas BSC harus disesuaikan dengan karakteristik material yang ditangani.

Berikut beberapa aplikasi umum biosafety cabinet di fasilitas.

Laboratorium Klinis dan Diagnostik (Penanganan Patogen)

Ini adalah aplikasi paling umum untuk BSC Class II Tipe A2. Di rumah sakit dan laboratorium diagnostik, biosafety cabinet digunakan untuk melindungi petugas medis saat memproses spesimen pasien (darah, jaringan, atau cairan tubuh lain) yang berpotensi mengandung agen infeksius.

Contoh Aplikasi 
Pemrosesan sampel Tuberkulosis (TB), kultur bakteri, serta penanganan virus pernapasan seperti Influenza atau SARS-CoV-2. BSC menjaga agar sampel tidak terkontaminasi silang sekaligus mencegah petugas terhirup aerosol infeksius.

Contoh Produk BSC Class II Tipe A2 :

Biobase Biosafety Cabinet Class II A2 Pro | Pusat Alat Laboratorium

Industri Farmasi (Compounding dan Produksi Steril)

Di industri farmasi, persyaratan GMP/CPOB menuntut lingkungan kerja yang sangat bersih dan stabil. Jenis BSC yang digunakan bervariasi tergantung sifat material yang ditangani.

Produksi Steril
Untuk pekerjaan seperti pencampuran obat suntik, persiapan antibiotik, atau pembuatan vaksin yang tidak melibatkan uap kimia berbahaya, BSC Class II Tipe A2 menjadi standar utama. Kabinet ini memberikan perlindungan lengkap: operator, produk, serta lingkungan.

Obat Sitotoksik (Kemo)
Untuk penanganan obat kemoterapi atau cytotoxic drugs yang bersifat karsinogenik dan volatil, wajib menggunakan BSC Class II Tipe B2 (Total Exhaust). Karena obat ini menghasilkan uap kimia berbahaya, udara buangan tidak boleh disirkulasikan kembali ke dalam kabinet maupun ruangan, melainkan harus dibuang 100% ke atmosfer luar melalui hard-ducting.

Contoh Produk BSC Class II Tipe B2 :

Biobase Biosafety Cabinet Class II B2 EB2 | Pusat Alat Laboratorium

Penelitian Virologi dan Penyakit Menular Tingkat Tinggi

Tidak semua BSC boleh digunakan untuk bahan kimia. Kesalahan penerapan di sini sering kali fatal.

Jika prosedur mikrobiologi melibatkan penggunaan radioisotop atau bahan kimia volatil dalam jumlah kecil (kelumit), BSC Class II Tipe A2 hanya boleh digunakan jika sudah diinstalasi dengan thimble canopy connection ke exhaust gedung.

Jika volume bahan kimia volatil signifikan, maka mutlak harus menggunakan BSC Class II Tipe B2.

Penggunaan yang Menghasilkan Aerosol Berat

Terkadang, laboratorium menggunakan peralatan seperti sentrifus berkecepatan tinggi atau peralatan pemanen sel (cell harvester) yang menghasilkan aerosol masif namun produknya tidak memerlukan sterilitas (hanya butuh perlindungan personel).

Dalam kasus seperti ini, BSC Class I dapat diterapkan. Karena Class I menyedot udara dari ruangan langsung mengenai sampel (tanpa filtrasi HEPA di inflow), alat ini melindungi operator dari aerosol yang beterbangan, namun tidak menjamin sampel bersih dari kontaminan ruangan.

Contoh Produk BSC Class I :

Biobase Biosafety Cabinet Class I | Pusat Alat Laboratorium

 

Sebagai kesimpulan, seluruh rangkaian instalasi mulai dari persiapan ruangan, pemasangan unit, hingga validasi dan sertifikasi adalah fondasi yang menentukan apakah sebuah biosafety cabinet benar-benar dapat memberikan perlindungan yang dijanjikan.

Dengan mengikuti seluruh persyaratan instalasi, memastikan proses validasi dan sertifikasi dilakukan dengan benar, serta menggunakan biosafety cabinet sesuai kelas dan aplikasinya, sebuah fasilitas dapat menjaga integritas proses, meminimalkan risiko kontaminasi, dan menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi personel maupun produk.

Sumber dan Referensi :

  1. Stanford University Environmental Health & Safety. “Biological Safety Cabinets and Other Containment Considerations”.
    https://ehs.stanford.edu/manual/laboratory-standard-design-guidelines/biological-safety-cabinets-and-other-containment#:~:text=3,exhaust%20a%20Class%20IIA%20cabinet
  2. “Biosafety Cabinet Types: Class I, II & III BSC Guide”. https://www.nuaire.com/resources/biosafety-cabinet-types-article
  3. University of Nevada, Reno Environmental Health & Safety. “Chapter 8: Laboratory Ventilation for Biosafety”. Biosafety Manual.
    https://www.unr.edu/ehs/policies-manuals/biosafety-manual/chapter-8
  4. ANSI Blog. “NSF/ANSI 49-2024: Biosafety Cabinets Design and Performance”.
    https://blog.ansi.org/ansi/nsf-ansi-49-2024-biosafety-cabinets-bscs/
  5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) & National Institutes of Health (NIH). “Biosafety in Micro­biological and Biomedical Laboratories (BMBL)”.
    https://www.cdc.gov/labs/BMBL.html
  6. World Health Organization (WHO). “Laboratory Biosafety Manual”. https://www.who.int/publications/i/item/9789240011311
instalasi biosafety cabinet